Kaum Marxis, Petani dan Demokrasi
| Lenin |
Ternyata tidak ada sama sekali watak
sosialis di dalam tuntutan mereka untuk menghapuskan kejahatan-kejahatan
ini, karena mereka sama sekali tidak menjelaskan pengambilalihan dan
eksploitasinya, dan penghapusannya pun sama sekali tidak akan
mempengaruhi penindasan terhadap tenaga kerja oleh modal. Padahal,
penghapusannya itu justru akan membebaskan penindasan dari sampah jaman
pertengahan yang telah membuatnya semakin menjadi-jadi ini, dan
sekaligus akan memudahkan perjuangan buruh secara langsung melawan
modal, sehingga karena alasan itulah, sebagai suatu tuntutan yang
demokratis, juga akan mendapatkan dukungan yang paling penuh semangat
dari para pekerja.
Pada umumnya, persoalan pembayaran dan
pajak itu merupakan salah satu persoalan yang hanya dapat diberi arti
oleh kaum borjuis kecil. Meskipun demikian, di Rusia, pembayaran yang
dilakukan oleh para petani itu, dalam banyak hal, hanyalah merupakan
sisa-sisa dari jaman perhambaan atau budak pengolah tanah. Yang seperti
itu, misalnya, dapat berupa uang pembayaran untuk menebus tanah, yang
harus segera dihapuskan tanpa syarat. Yang seperti itu, misalnya, juga
dapat berupa uang pembayaran untuk pajak, yang hanya para petani dan
rakyat kecil di kota yang membayarnya. Sedangkan mereka yang disebut
“orang baik-baik” justru dibebaskan dari kewajiban membayar pajak.
Sehingga kaum Sosial Demokrat akan selalu mendukung tuntutan untuk
menghapuskan sisa-sisa hubungan dari jaman pertengahan ini, yang telah
menyebabkan kemandekan ekonomi dan politik. Hal yang sama dapat
dikatakan tentang kemiskinan tanah. Saya telah memberikan bukti secara
panjang lebar tentang watak borjuis dari ratap tangis yang dibuat-buat
dalam hal ini. Akan tetapi, tidak disangsikan lagi bahwa Reformasi
petani, misalnya, yang membolehkan pemotong-motongan tanah [92], secara
positif jelas telah merampok para petani untuk keuntungan para tuan
tanah, dengan memberikan pelayanan kepada kekuatan yang luar biasa
reaksionernya ini, baik secara langsung (dengan merampas tanah dari para
petani) maupun secara tidak langsung (dengan cara yang cerdik, yaitu
dengan membatasi jatah tanahnya). Sehingga kaum Sosial Demokrat pun
dengan cara yang paling keras akan mendesak untuk segera mengembalikan
kepada para petani semua tanah yang dirampas dari mereka itu dan
sekaligus juga menghapuskan sama sekali kepemilikan atas tanah itu —
yang telah menjadi benteng dari tradisi dan institusi feodal selama ini.
Persoalan yang belakangan ini, dan yang bertepatan dengan nasionalisasi
tanah ini, sama sekali tidak mengandung ciri sosialis, karena hubungan
pertaniannya yang bersifat kapitalis dan yang sudah terbentuk di negeri
kita itu, dalam hal ini, hanya akan berkembang subur secara lebih cepat
dan lebih melimpah saja, sehingga hal ini menjadi luar biasa penting
artinya dari sudut pandang demokratis sebagai satu-satunya langkah yang
mampu memutuskan sama sekali dari kekuasaan kaum bangsawan yang juga
tuan tanah itu. Yang terakhir, sudah barang tentu, hanya Tuan-Tuan
Yuzhakov dan V. V. saja, yang dapat berbicara tentang tidak adanya hak
bagi para petani itulah yang menjadi sebab dari pengambilalihan dan
eksploitasi yang mereka alami itu. Mengenai penindasan terhadap kaum
tani oleh penguasa, hal itu tidak hanya merupakan fakta yang tak dapat
disangkal lagi, tetapi juga merupakan sesuatu yang lebih dari sekedar
penindasan. Karena penguasa justru memperlakukan para petani itu sebagai
“rakyat jembel yang hina-dina,” sehingga dianggap wajar apabila mereka
menjadi kawula yang harus menderita di bawah kaum bangsawan yang juga
tuan tanah itu, sehingga hak-hak sipil pun hanya dapat diberikan sebagai
kemurahan hati yang istimewa (seperti migrasi, [4] misalnya), dan yang
akan dapat disuruh-suruh oleh siapa pun yang sedang menjadi pejabat,
sehingga, seolah-olah, mereka itu penghuni tempat penampungan orang
gelandangan. Karena itu, kaum Sosial Demokrat secara terus terang
menghubungkan dirinya dengan tuntutan untuk memulihkan hak-hak sipil
para petani ini sepenuhnya, untuk menghapus sama sekali semua hak-hak
istimewa kaum bangsawan, juga untuk menghapus sama sekali pengawasan
oleh kaum birokrat terhadap para petani, dan untuk mengembalikan hak
para petani untuk mengurus dirinya sendiri.
Pada umumnya, kaum komunis Rusia,
sebagai penganut Marxisme, haruslah melebihi siapa pun lainnya yang
menyebut dirinya sebagai orang SOSIAL DEMOKRAT, sehingga dalam
kegiatannya haruslah tidak pernah melupakan tentang amat sangat
pentingnya DEMOKRASI.
Di Rusia, sisa-sisa lembaga semi feodal
dari jaman pertengahan itu masih saja luar biasa kuatnya (apabila
dibandingkan dengan Eropa Barat), dan menjadi beban penindas kaum
proletariat maupun rakyat pada umumnya, serta menghambat pertumbuhan
pikiran politik di semua kelas dan tingkat kehidupan, sehingga orang
tidak dapat berbuat lain kecuali mendesakkan arti penting yang luar
biasa berupa perjuangan kaum buruh itu untuk melawan semua lembaga
feodal, absolutisme, sistem kelas sosial, dan birokrasi. Kaum buruh,
dengan rincian yang paling besar, harus menunjukkan betapa mengerikan
reaksionernya kekuatan dari lembaga-lembaga ini, betapa intensifnya
mereka penindasan terhadap tenaga kerja oleh modal, betapa hinanya
tekanan yang mereka kenakan pada rakyat pekerja, betapa kuatnya mereka
mempertahankan modal itu dalam bentuknya di jaman pertengahan, yang,
sementara tidak mencukupi tuntutan bentuk industri modern dalam
hubungannya dengan eksplotiasi tenaga kerja, ternyata juga menambah
beratnya eksploitasi ini dengan menempatkan kesulitan-kesulitan yang
mengerikan untuk merintangi perjuangan guna mencapai emansipasi. Dengan
demikian, para pekerja harus tahu bahwa apabila pilar-pilar reaksi ini
[6] digulingkan, maka jelas tidak akan mungkin sama sekali bagi mereka
untuk melancarkan perjuangan secara berhasil melawan kaum borjuasi,
karena selama pilar-pilar itu ada, maka kaum proletariat Rusia di daerah
pedesaan, yang dukungannya merupakan syarat penting bagi kemenangan
kelas pekerja, tidak akan pernah berhenti ditindas dan ditakut-takuti,
sehingga hanya mampu cemberut sedih dan bukannya protes dan berjuang
dengan tidak cerdas dan gigih. Dan, itulah sebabnya mengapa sudah
menjadi tugas langsung dari kelas pekerja untuk berjuang secara
berdampingan dengan kaum demokrasi radikal melawan absolutisme serta
lembaga-lembaga maupun kelas-kelas sosial reaksionernya — yaitu, tugas
yang harus ditekankan oleh kaum Sosial Demokrat kepada kaum buruh,
sementara tak sesaat pun berhenti untuk menekankan juga kepada mereka
bahwa perjuangan melawan semua lembaga ini hanya diperlukan sebagai
sarana untuk memudahkan perjuangan melawan borjuasi, bahwa kaum buruh
perlu mencapai tuntutan demokratik secara umum itu hanya untuk
melapangkan jalan ke kemenangan atas musuh utama rakyat pekerja, atas
lembaga yang wataknya secara murni bersifat demokratis, yaitu modal,
yang di sini, di Rusia, istimewa kecenderungannya untuk mengorbankan
demokrasinya dan untuk masuk ke dalam aliansi dengan kaum reaksioner
agar supaya dapat menindas kaum buruh, dan dapat merintangi lebih lanjut
munculnya gerakan kelas buruh.
***
Dengan demikian, meskipun ada perbedaan
di kalangan orang-orang Marxis dalam berbagai persoalan teoritis, namun
metode-metode dari kegiatan politik mereka ini tetap tidak berubah sejak
kelompok itu muncul.
Kegiatan politik dari kaum Sosial
Demokrat ini terletak pada peningkatan perkembangan dan organisasi
gerakan kelas pekerja di Rusia, dengan mentransformasikan gerakan ini
dari keadaannya yang sekarang berupa usaha-usaha sporadis dalam protes,
“kerusuhan,” dan pemogokan tanpa ide yang dapat menunjukkan arah,
menjadi perjuangan terorganisir dari SELURUH KELAS pekerja Rusia yang
diarahkan untuk melawan rezim borjuis dan bekerja untuk mengambil alih
para pengambil alih dan menghapuskan sistem sosial yang didasarkan pada
penindasan terhadap rakyat pekerja. Sebenarnya, yang mendasari semua
kegiatan ini adalah keyakinan bersama kaum Marxis bahwa kaum pekerja
Rusia itu merupakan satu-satunya wakil alami dari seluruh rakyat pekerja
yang tereksploitasi.
Hal itu memang alami karena eksploitasi
terhadap rakyat pekerja di Rusia itu di mana-mana mempunyai watak
kapitalis, apabila kita tidak mengikutsertakan sisa-sisa ekonomi
perhambaan feodal yang hampir mati itu dalam perhitungan kita. Karena,
eksploitasi terhadap massa produsen itu berskala kecil, tercerai berai
dan terbelakang, sementara eksploitasi terhadap kaum proletariat di
pabrik-pabrik itu berskala raksasa, tersosialisasi, dan terpusat.
Dalam kasus yang di muka, eksploitasinya
masih terjerat dalam berbagai bentuk dari jaman pertengahan, dalam
berbagai alat, tipu muslihat, dan hiasan atau perangkap politik dan
hukum yang kuno, dan yang menghalangi rakyat pekerja maupun para ahli
ideloginya sehingga tidak mampu melihat intisari dari sistem yang
menindas rakyat pekerja, dan juga tidak mampu melihat di mana dan
bagaimana orang dapat menemukan jalan keluar dari sistem ini. Dalam
kasus yang belakangan, sebaliknya, eksploitasi itu sepenuhnya telah
berkembang dan muncul dalam bentuknya yang murni, tanpa rincian apa pun
yang membingungkan. Sehingga kaum pekerja mampu melihat bahwa mereka
telah ditindas oleh modal, bahwa perjuangannya harus dilancarkan melawan
kelas borjuis. Dan perjuangan ini, yang ditujukan untuk memenuhi
kebutuhan ekonominya yang segera, dan untuk memperbaiki kondisi
materialnya, secara tak terelakkan juga menuntut agar supaya para
pekerja mengorganisasikan diri, dan secara tak terelakkan pula menjadi
perang yang bukannya melawan individu-individu, tetapi melawan sebuah
kelas, yaitu, kelas yang menindas dan menghancurkan rakyat pekerja,
tidak hanya di pabrik-pabrik, tetapi juga di mana-mana. Itulah sebabnya
mengapa kaum buruh di pabrik-pabrik tidak lain adalah wakil yang paling
terkemuka dari seluruh rakyat yang tereksploitasi. Dan, agar supaya
mereka dapat memenuhi fungsinya sebagai wakil dalam perjuangan yang
terorganisir dan terus-menerus, maka hal itu sama sekali tidak perlu
membuat mereka merasa bergairah dengan “berbagai perspektif.” Karena
yang diperlukan di sini hanyalah untuk membuat mereka memahami
kedudukannya, untuk membuat mereka memahami struktur politik dan ekonomi
dari sistem yang menindas mereka, beserta keharusan yang tak terelakkan
dari berbagai antagonisme kelas yang ada di bawah sistem ini. Posisi
buruh pabrik ini di dalam sistem hubungan kapitalis pada umumnya itu
membuat mereka menjadi pejuang tunggal untuk mencapai emansipasi bagi
kelas pekerja, karena hanya tingkat perkembangan kapitalisme yang lebih
tinggi, dan yang berupa industri mesin berskala raksasa itu saja, yang
dapat menciptakan kondisi materi dan kekuatan sosial yang diperlukan
untuk perjuangan ini.
Di mana pun bentuk perkembangan
kapitalisme itu rendah, maka kondisi materi ini pun belum ada.
Produksinya pun masih tercerai-berai di kalangan ribuan perusahaan kecil
(dan perusahaan-perusahaan ini tetap saja menjadi perusahaan-perusahaan
yang tercerai-berai bahkan di bawah bentuk kepemilikan tanah komunal
yang paling egalitarian sekali pun), karena bagian paling besar dari
yang tereksploitasi itu masih memiliki perusahaan-perusahaan kecil,
sehingga dengan demikian masih terikat dengan sistem borjuis itu sendiri
yang harus dilawannya: Hal inilah yang memperlambat dan menghalangi
perkembangan kekuatan sosial yang mampu menggulingkan kapitalisme.
Eksploitasi perusahaan-perusahaan kecil
yang bersifat individual dan tercerai-berai ini telah mengikat rakyat
pekerja ke satu tempat tertentu, sehingga memecah-belah mereka, dan
sekaligus mencegah mereka untuk bersatu begitu mereka telah memahami
bahwa penindasan itu tidak disebabkan oleh individu-individu tertentu,
tetapi oleh seluruh sistem ekonomi itu. Kapitalisme berskala raksasa,
sebaliknya, secara tak terelakkan memutuskan semua ikatan kaum pekerja
dari masyarakat lamanya, dari tempat tertentunya, dan juga dari pengisap
tertentunya pula. Sehingga kapitalisme berskala raksasa ini jugalah
yang menyatukan mereka, memaksa mereka untuk berpikir dan menempatkan
dirinya dalam kondisi yang membuat mereka mampu untuk memulai perjuangan
secara terorganisir. Dengan demikian, pada kelas pekerja inilah kaum
Sosial Demokrat harus memusatkan semua perhatian dan semua kegiatannya.
Apabila para wakilnya yang paling maju telah menguasai ide-ide
sosialisme ilmiah, yaitu, ide tentang peranan historis dari kaum pekerja
Rusia, dan apabila ide-ide ini telah menjadi tersebar luas, serta
apabila organisasi-organisasi yang stabil telah terbentuk di kalangan
kaum pekerja untuk mentransformasi perjuangan ekonomi dari para pekerja
yang masih bersifat sporadis itu menjadi perjuangan kelas yang dilakukan
dengan penuh kesadaran — maka, pada waktu itulah, KAUM BURUH Rusia yang
tampil terdepan dalam semua unsur demokratik, akan menggulingkan
absolutisme dan memimpin PROLETARlAT RUSIA (yang berdampingan dengan
proletariat dari SELURUH DUNIA) di jalan lurus berupa perjuangan politik
secara terbuka ke KEMENANGAN REVOLUSI KOMUNIS
(Lenin).
Diterjemahkan oleh: Danial Indrakusuma
Sumber : www.pembebasan.org






Tidak ada komentar:
Posting Komentar