PRPPB : Ini Kronologi Represi Terhadap Mahasiswa Papua di Yogyakarta
![]() |
| Polisi mengepung Asrama mahasiswa Kemasan Yogyakarta, Jumat 15/7/2016-membunuhindonesiacom |
Pada Jumat, 15 Juli 2016, Persatuan Rakyat untuk Pembebasan
Papua Barat (PRPPB) berencana mengadakan long march dengan rute Asrama
Mahasiswa Papua Kamasan I (Jl. Kusumanegara) sampai Titik Nol KM, pk 09.00 –
selesai. Long March diadakan dalam rangka menyatakan dukungan pada ULMWP untuk
menjadi anggota penuh MSG, dan memperjuangkan hak menentukan nasib sendiri
sebagai solusi demokratis pada Papua Barat.
Namun aksi damai ini mendapatkan ancaman dan represi dari aparat
kepolisian dan kelompok reaksioner. Berikut kronologi kejadian:
Kamis, 14 Juli 2016
Pukul 16.53 WIB narahubung PRPPB mendapat SMS anonim:
“KAFIR!!!!! lagi2 Antek-antek Separatis yang mengatasnamakan Aliansi Mahasiswa
Papua Jogjakarta akan mengadakan gerakan makar dengan aksi turun kejalan yang
menyuarakan PAPUA MERDEKA, PAPUA BUKAN INDONESIA yang membawa atribut Bintang
Kejora, Pakaian adat serta senjata tradisional mereka pada hari Jumat 15 juli
2016 di Nol KM Yogyakarta.
Ini adalah ke 2 kali nya si hitam bangsat, KAFIR LAKNATULLAH itu
melakukan demo makar di hari Jumat yang mana adalah hari nya Umat Muslim,
terlebih aksi mereka sebelumnya dilaksanakan pada saat umat muslim sedang
melaksanakan ibadah puasa Ramdhan.
Kami Masyarakat Muslim Jogja dan bersama dengan Masyarakat
lainnya akan bersatu untuk menggorok leher2 manusia LAKNAT keturunan monyet
tersebut, karena kita warga asli jogja sudah geram dengan tingkah laku Makar
mereka dan bau busuk dari badan mereka!!!..
Aparat keamanan baik TNI & Polisi selama ini seolah takut
menghadapi Aksi Makar Mereka & selama ini Aparat keamanan telah pilih kasih
dalam menegakkan hukuman kepada manusia2 hitam tersebut. Mari satukan kekuatan,
Satukan tekat dg seijin ALLAH untuk mengusir bedebah2 bangsat, Separatis itu
dari tanah kita Tanah JOGJA istimewa!!..
Kita Gagalkan aksi Separtis ditanah JOGJA yang istimewa ini..
Kota jogjakarta kota pelajar, kota budaya, kota muslim tanpa Separatis..
A A LAWAN SEPARATIS!!!! ALLAHUAKBAR…!!! ALLAHUAKBAR…!!! ALLAHUAKBAR…!!!
#jogjaAmanTanpaSeparatis #Muslimfigtherselatan
#barisaAntiSeparatis&Komunis #JogokaryaFigther #AngkatanMuslimJogja…!!!”
Jumat 15 Juli 2016
Pukul 01.47 WIB, salah satu anggota PRPPB mendapatkan broadcast:
“asalamualaikum wrwb.. segenap anggota laskar jogja di harapkan di harapkan
siaga untuk hari jumattgl 15 juli 2016.. karena ada isu papua akan mengibarkan
bendera bintang kejora di titik nol., acara akan di mulai dari pagi jam 09.00-
13.00 wib.. tolak OPM dari bumi jogja istimewa.. harap siaga di wilayah
masing2.. nunggu komando dari saya..ttd: PANGLIMA LASKARJOGJA..( INDRA
mEhong/Indra Tatto)
#Kpd Yth Ketua Cabang GM FKPPI harap koordinasi dengan
anggotanya persiapan aksi NKRI HARGA MATI yg akan kita laksanakan besok jumat
15 juli 2016 di depan asrama kamasan jl. Kusumanegara, TITIK KUMPUL KITA di: Di
depan JEC Jam 08.00 pagi, demikian untuk GM FKPPI DI,”
Pukul 07.00 WIB aparat kepolisian sudah mulai mengepung Asrama
Mahasiswa Papua Kamasan I, Jl. Kusumanegara, Yogyakarta. Jalan raya di depan
asrama diblokir oleh aparat. Pintu gerbang asrama tidak bisa digunakan sebagai
pintu masuk karena diblokade oleh aparat. Kawan-kawan masuk mengunakan pintu
belakang asrama.
Pukul 08.00 WIB sekitar 50 orang massa ormas Paksi Katon telah
berkumpul dan melakukan apel di timur asrama. 5. Pk 09.40 akses pintu belakang
sudah diketahui oleh aparat, dan mereka langsung menutup pintu akses pintu
belakang dengan truk polisi. Aparat juga sempat mengedor-gedor, mencoba
mendobrak pintu belakang asrama namun tidak berhasil. Massa dikurung di dalam,
akses masuk dan keluar ditutup.
Ada dua kawan Papua bersepeda motor datang, akan masuk lewat
pintu belakang. Polisi berpakaian preman menyetop, menyita sepeda motor mereka.
Polisi berpakaian preman ada yang intimidatif berkata, “Kamu kira polisi takut,
ya?! Kita bisa habisi kalian!” Kawan yang dirampas sepeda motornya mencoba
mengambil motor terebut. Polisi marah, terjadi perkelahian. Polisi
mengeluarkan tembakan peringatan. Kawan Papua tersebut melarikan diri lewat
lorong ke arah Jalan Kusumanegara lalu ditangkap polisi. Sempat terjadi baku
hantam dankawan Papua itu dikeroyok beberapa polisi, ia sempat diinjak-injak.
Pukul 09.50 WIB aparat semakin memperkuat penjagaan di depan.
Ada beberapa orang yang akan bergabung ke asrama namun dihadang aparat. Satu
orang kawan dari Perjuangan Mahasiswa untuk Demokrasi (PMD) yang akan masuk ke
asrama ditangkap polisi. Tujuh orang yang baru pulang dari membeli ubi di pasar
dan hendak masuk ke asrama juga ditangkap polisi.
Pukul 09.55 WIB, di dalam asrama, massa aksi yang sudah
berkumpul memulai agenda penyampaian orasi politik di halaman asrama.
Pukul 10.00 WIB, ada satu kawan Papua yang ditangkap dan disuruh
duduk di pinggir jalan, kepanasan dengan tangan diborgol.
Pukul 10.30 WIB dua orang kawan Papua hendak masuk ke asrama
lewat gerbang depan, namun ditahan anggota ormas, dilarang masuk. Sempat
terjadi adu argumen antar mereka, lalu ormas mengancam dan mengintimidasi
sambil menunjukkan pisau.
Pukul 10.40 WIB, sekitar lebih dari 100 orang berseragam Paksi
Katon, Laskar Jogja, Pemuda Pancasila, dan FKPPI bergerak ke depan asrama dari
sekitar lokasi. Mereka meneriakkan kata- kata yang sangat rasialis. Massa aksi
di dalam asrama mampu menahan diri dari provokasi. Tindak rasis ini dibiarkan
oleh aparat. Aparat membaur bersama massa ormas yang memprovokasi.
Pukul 11.00 WIB, aparat terlihat menyingkir dari depan asrama.
Korlap aksi menyerukan pada massa di dalam untuk tenang dan tetap berada di
dalam, untuk menghindari penangkapan oleh polisi ketika berjalan keluar.
Di depan Bale Ayu, Timoho, ada pemeriksaan pengguna motor oleh
aparat kepolisian. Kawan-kawan Papua yang lewat dihentikan, diceramahi, dan
ditangkap. Beberapa motor ditahan.
Pukul 14.07 WIB Asrama masih dikepung aparat dan ormas. Sekita
150-an kawan yang berada di dalam asrama mulai lapar. Ubi yang dibeli di Pasar
Giwangan sudah disita polisi bersama ditahannya 7 orang tadi. PRPPB menyebarkan
seruan solidaritas logistik.
Pukul 16.15 WIB massa PRPPB dan massa solidaritas yang tidak
bisa masuk asrama melakukan aksi membagi selebaran di pertigaan UIN Sunan
Kalijaga. Aksi diikuti 30-an orang, berjalan lancar dan selesai tepat saat
polisi mulai berdatangan. Tuntutan aksi ini adalah:
1.
Bebaskan semua kawan kami yang ditangkap oleh polisi dan dikriminalisasi.
2.
Bubarkan pasukan aparat dan kelompok reaksioner dari Asrama
Papua di Kamasan
3.
Kebebasan berkumpul, berserikat, berbicara, menyampaikan
pendapat adalah hak asasi manusia yang harus dijamin
4.
Bangun Solidaritas Rakyat. Lawan Rasisme dan Pertahankan
Demokrasi.
Warga Yogyakarta bersolidaritas dan mengumpulkan logistik berupa
nasi bungkus, minuman, gula, kopi, dan mie instan. Logistik dikumpulkan di
markas Palang Merah Indonesia, Kotagede, dan rencananya dikirimkan dengan mobil
Ambulans PMI dengan menimbang hukum internasional yang menyatakan bahwa palang
merah tidak boleh ditahan atau diserang.
Pukul 17.30 WIB, ambulans PMI yang membawa logistik tiba di
depan asrama. Ambulans dihentikan oleh polisi lalu parkir di seberang jalan.
Sopir ambulans terlihat bercakap-cakap dengan polisi. 10 menit kemudian
ambulans pergi tanpa menurunkan logistik sama sekali.
Pukul 19.25 WIB sekitar lebih dari 150 orang yang terjebak
berkumpul dan duduk di dalam aula asrama sambil menyanyikan lagu daerah.
Sebagian kawan membersihkan sampah-sampah di halaman depan asrama. Saat mereka
sedang membersihkan, polisi meneriakkan kata-kata: “mengganggu pemandangan”.
Beberapa kawan tadi keluar dari asrama untuk merespon teriakan polisi. Polisi
kemudian menembakkan gas air mata sebanyak tiga kali.
Pukul 22.37 WIB satu orang kawan Papua yang ditangkap masih
ditahan di Polda DIY. Tujuh orang lainnya sudah dibebaskan setelah pembuatan
BAP. Handphone dari salah satu korban penangkapan masih ditahan di Polda DIY.
LBH Yogyakarta masih mengupayakan pembebasan kawan yang ditahan.
Yogyakarta, 15 Juli 2016
Persatuan Rakyat untuk Pembebasan Papua Barat (PRPPB)







Tidak ada komentar:
Posting Komentar